Cepat mendengar, Lambat berkata-kata

Hendaknya kita menjadi seorang yang cepat mendengar dan lambat berkata-kata. Mengapa? mari kita simak beberapa kisah dibawah ini.
Di suatu tempat di amerika, seorang istri terancam hukuman 90 tahun penjara karena menggigit bibir suaminya hingga terluka dan dirawat di rumah sakit. Hal ini terjadi karena percekcokan kecil yang akhirnya menjadi besar dan mengakibatkan si istri tidak terima dan menggigit bibir si suami. Sungguh tragis. Hal seperti ini tidak jarang kita lihat di negara kita ini. Begitu banyak kisah yang hampir sama bisa kita saksikan di negara kita. Misalnya..

Seorang bapak yang baru pulang dari sawah dan lapar ingin langsung makan. Tetapi ia tidak mendapati istrinya memasakkan makanan untuk dia dan dia bertanya kepada si istri kenapa belum memasak, dan si istri balik menyalahkan dan terjadinya percekcokan. Si suami menebas cangkulnya kepada si istri. Ada lagi cerita lain dimana si istri atau si suami kedapatan selingkuh lalu salah satu di antara mereka menyiramkan bensin dan membakar lawannya atau menusukkan pisau kepada pasangannya. Mungkin juga menyiramkan air panas. Hal ini menjadi tontonan yang sudah sering kita lihat di televisi saat menonton berita. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi.
Ini dikarenakan oleh sifat manusia yang tidak suka mendengar terlebih dahulu penjelasan, tapi langsung mengeluarkan kata-kata yang tidak bijak yang dapat menimbulkan percekcokan dan akhirnya seteru yang besar hingga menyebabkan pembunuhan.
Dalam menghadapi konflik, hendaknyalah kita menjadi seorang yang cepat mendengar dan lambat berkata-kata. Supaya dengan kita cepat mendengar, kita bisa memikirkan duludan menelaah lebih jauh inti masalahnya dan juga kita bisa berpikir apakah kalo kita bercekcok mendapatkan hasil yang baik atau hasil yang buruk. Dan kemudian kita perlu menahan diri untuk berkata-kata. Dalam berkata-kata kita harus bijak agar suasana yang tadinya panas bisa didinginkan. Penting kita lakukan dan tau, bahwa percekcokan itu tidak menghasilkan sesuatu yang baik, melainkan menghilangkan sesuatu dari kita. Yaitu kepercayaan dan keharmonisan.
Mintalah pada Tuhan agar hari-hari kita dapat kita lalui dengan sikap yang cepat mendengar dan lambat berkata-kata.


-God Bless Us-

2 comments: (+add yours?)

aan cerdass said...

Like this one... GBU...
rampungkan dalam 1 draf buku aja bang... keren loh isi blog mu ini...setipe dengan buku setengah isi, setengah kosong...

siapa tau bisa jadi the next raditya dika..

Bigyst said...

^^, udah ada rencana An, kemaren itu ada rencana mau buat E-book sama yang punya blog http://luphlyjc.blogspot.com/ tapi masih didalam perencanaan. Semoga bisa terealisasi dan bisa jadi buku. Doakan aja!! makasi sarannya

Post a Comment